Panduan Memulai Meetup WordPress di Kota Anda

Panduan berikut disusun berdasarkan dan diterjemahkan dari halaman Meetup Interest Form.

WordPress.org memiliki akun utama di Meetup.com untuk meetup WordPress di seluruh dunia. Jika Anda ingin memulai grup meetup di kota Anda, maka WordPress.org global akan membiayai akun Meetup.com asalkan Anda berkomitmen untuk mengikuti pedoman berikut ini:

  1. Meetup WordPress diadakan untuk kebaikan seluruh komunitas WordPress, bukan untuk perusahaan atau individu. Semua keputusan dan tindakan yang diambil oleh organizer adalah demi kebaikan komunitas.
  2. Keanggotaan di grup meetup lokal terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung, bukan berdasarkan kemampuan, keterampilan, status finansial, atau hal lainnya.
  3. Meetup dijalankan oleh relawan dan diisi oleh relawan pembicara. Jika kehadiran peserta dikenakan biaya, biaya tersebut harus digunakan hanya untuk membiayai penyelenggaraan meetup, bukan untuk membayar pembicara atau organizer.
  4. Meetup dapat diselenggarakan oleh anggota komunitas yang terpercaya dan bertanggung jawab.
  5. Meetup adalah wadah yang terbuka bagi siapa pun. Semua yang menghadiri meetup harus berusaha untuk menciptakan sebuah kegiatan tanpa diskriminasi, kekerasan, ujaran kebencian, dan tindakan lain yang merusak tujuan meetup.

Kami juga mengajak semua orang yang menyelenggarakan meetup untuk menghormati prinsip proyek open source WordPress, termasuk GPL. Prinsip tersebut melindungi pengguna/peserta, yang mungkin tidak sadar bahwa menggunakan plugin atau tema non-GPL artinya mereka telah mengabaikan hak yang telah WordPress berikan.

Lanjutkan membaca Panduan Memulai Meetup WordPress di Kota Anda

Kursus-kursus JavaScript yang dapat dilakukan secara daring (online)

Di presentasi “State of the Word” oleh Matt Mullenweg di WordCamp US 2015 lalu, menyatakan “Learn JavaScript, Deeply“.

“Learn JavaScript, Deeply”

Dan sekarang di tahun 2020, tren dunia teknologi saat ini adalah JavaScript. Framework mulai bermunculan seperti React, Vue, dsb, dan JavaScript juga dapat dijalankan di server dengan bantuan node.js.

Demikian juga dengan WordPress, dengan hadirnya Gutenberg sebgai block editor pengganti TinyMCE, WordPress juga mengalami evolusi dengan tren JavaScript saat ini.

Selain itu ada juga tren baru dari WordPress yaitu sebagai Headless CMS. Artinya WordPress hanya digunakan untuk melakukan manajemen konten, dan antar muka dari situs secara terpisah dibangun dengan menggunakan JavaScript.

Contoh situs headless CMS dengan menggunakan WordPress dan GatsbyJS.
https://ecstatic-colden-12d77f.netlify.app/

Mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Matt, belajar JavaScript disaat ini belum terlambat bahkan menurut saya saat yang tepat. Karena secara teknologi sudah jauh lebih matang dibandingkan 5 tahun lalu. Tutorial, buku, dan kursus-kursus secara daringnya pun sudah ada banyak.

Lanjutkan membaca Kursus-kursus JavaScript yang dapat dilakukan secara daring (online)

Kulgram #8: Advanced WordPress for Blogger

Ketika kita berbicara mengenai blog, ada banyak pilihan dan versi untuk membuatnya. Mau yang gratisan atau berbayar, mau yang sederhana atau mewah juga ada. Atau, mau yang punya banyak fitur atau sekedar menulis blog?

Blog yang saya bicarakan di sini adalah tentu saja blog untuk personal yang ingin membuat branding diri di media online ataupun media sosial. Blog yang tidak didesain untuk ditulis robot atau konten yang dapat menghasilkan traffic sebanyak-banyaknya untuk menghasilkan uang dengan menjadi publisher.

Bagaimana caranya? Saya akan membagikan tips pengalaman menggunakan WordPress selama 8 tahun ini di Kulgram PerempuanWP #8.

Kapan akan dilaksanakan?

Minggu, 12 April 2020 19.30 – 22.00 WIB

Siapa pembawa materinya?

Shintaries adalah blogger Indonesia yang sudah menggunakan WordPress semenjak memulai blog personal di shintaries.com. Saat ini sedang bekerja di perusahaan startup Influencer Marketing Platform dan Founder dari Blogger Perempuan Network, komunitas perempuan blogger dengan jumlah member 5700+ yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kenapa harus WordPress?

Saya punya sederet alasan, tapi yang paling utama ketika memilih WordPress untuk blog adalah sebagai berikut:

  1. CMS yang paling populer di seluruh dunia
  2. Mudah mencari hosting
  3. User friendly bahkan untuk perempuan
  4. Maintenance yang mudah
  5. Dukungan add-on yang bervariasi dan gratis.
  6. Community yang besar seperti @PerempuanWP yang bisa membantu sesama pengguna WordPress.

Tips dari saya, penggunaan WordPress untuk blogger akan saya bagi dalam 3 kategori

  • Foundation & Maintenance (Shared Hosting vs VPS)
  • Performance (Page Speed Loading Blog)
  • Optimisation (AMP & SiteKit)

Di sesi Kulgram#8 PerempuanWP kali ini, ia akan berbagi bagaimana cara membuat blog untuk membuat branding diri melalui media online ataupun media sosial.

Jadi, jangan sampai ketinggalan kesempatan Kulgram#8 PerempuanWP! Segera bergabung di Telegram Perempuan WP dan ajak teman-teman perempuan lain! Untuk informasi lebih lanjut hubungi @aulia-savira dan @devin-maeztri.

WPJKT Meetup #22: WordPress sebagai Framework dan KDR (Kerja Dari Rumah)

Kami mengundang semua penggiat WordPress di Jakarta dan sekitarnya untuk hadir pada kegiatan rutin komunitas WordPress di Jakarta yang akan diadakan online untuk pertama kali.

Pada meetup kali ini, selain berdiskusi teknis tentang WordPress sebagai framework, kita juga akan berdiskusi bersama teman-teman yang selama ini bekerja remotely, tentang kiat-kiat bekerja dari rumah agar tetap produktif dan menyenangkan.

Judul:
WPJKT Meetup #22: WordPress sebagai Framework dan KDR (Kerja Dari Rumah)

Waktu & Tempat:
Sabtu, 28 Maret 2020
19:00 – 20:30 WIB
diadakan secara online streaming

Tautan untuk bergabung akan dikirimkan via e-mail dan sosial media satu jam sebelum acara dimulai.

Pembicara:
1. Ridwan Afandi, WordPress dan WooCommerce Developer
2. Kharis Sulistiyono, Happiness Engineer di StoreApps
2. Ascencia Fike Komala, Affiliate Specialist di Saturday Drive
3. Agus Muhammad, Head of Digital Marketing di RunCloud

Topik:
1. WordPress sebagai Framework
2. Diskusi tentang KDR (Kerja dari Rumah)

WordPress merupakan CMS (Content Management System) terbesar di dunia saat ini. Lebih dari 30% situs web menggunakan WordPress. WordPress menjadi populer dan besar seperti saat ini karena kekuatan open source dan kontribusi dari komunitasnya. Kami mengundang Anda untuk berkontribusi menjadikan WordPress lebih baik dan besar di Indonesia.

NB:
Karena meetup diadakan online, maka kami harap untuk bergabung tepat waktu agar tidak ketinggalan materi.

WPJKT Meetup #22: WordPress sebagai Framework dan KDR (Kerja dari Rumah)

Saturday, Mar 28, 2020, 7:00 PM

No location yet.

8 WordPress Enthusiasts Attending

Kami mengundang semua penggiat WordPress di Jakarta dan sekitarnya untuk hadir pada kegiatan rutin komunitas WordPress di Jakarta yang akan diadakan online untuk pertama kali. Pada meetup kali ini, selain berdiskusi teknis tentang WordPress sebagai framework, kita juga akan berdiskusi bersama teman-teman yang selama ini bekerja secara remote, tenta…

Check out this Meetup →

Apa Saja Pengalaman Perempuan Berkarya di Dari Teknologi tu

Komunitas yang ideal adalah komunitas in yangt okeu terbuka, inklusif, dan ramah terhadap siapa r set. Karena semakin he orang dan semakin beragam orang yang EF u dapat berkontribusi ke dalam komunitas dalam bentuk apa pun, maka isi atau manfaat yang didapatkan dari y n HK ini akan menjadi semakin kaya.

Komunitas WordPress di seluruh dunia menjunjung tinggi nilai-nilai transparansi dan inklusivitas, seperti yang dituangkan di Kode Etik WordPress. Ibarat sebuah ekosistem, jika banyak orang yang terlibat dan terlibat aktif maka akan berdampak pada kualitas produk, kepercayaan customer dan meningkatnya bisnis atau proyek yang akan diperoleh.

Dalam rangka International Women’s Day 2020 yang jatuh pada 8 Maret, PerempuanWP mengumpulkan cerita dari beberapa perempuan yang bergerak di dunia TeknoIogi Informasi (TI). Dengan membaca artikel berikut, diharapkan teman-teman dapat memahami bagaimana lika-liku berkarya di dunia TI sebagai seorang perempuan, dan membuat dunia TI menjadi dunia yang lebih ramah kepada siapa saja, bukan hanya laki-laki.

Saya berkecimpung di dunia TI sejak saya kuliah pada tahun 2009.

Sejak awal saya tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan teman-teman saya, di mana teman-teman saya didominasi oleh laki-laki.

Di beberapa tempat saya bekerja, termasuk di tempat saat ini saya bekerja, rekan kerja saya pun masih didominasi oleh laki-laki. Sampai detik ini saya dapat berkomunikasi baik dengan mereka, saya tidak pernah merasa diremehkan ataupun dipandang sebelah mata oleh mereka.

Setiap masukan yang saya berikan bernilai sama dengan masukan yang diberikan oleh teman-teman yang lainnya dan dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, baik itu bersifat teknis maupun konseptual. Rekan-rekan saya pun tidak sungkan datang kepada saya untuk bertanya mengenai hal-hal teknis, maupun sekedar diskusi ringan seputar dunia TI.

Menjadi seorang programmer perempuan sangat menyenangkan untuk saya. Tidak ada batasan ataupun halangan untuk terus belajar, selama kita memiliki keinginan untuk terus belajar.

Tidak jarang saya sebagai perempuan melihat suatu masalah dari sudut pandang dan cara pikir yang berbeda dengan para laki-laki. Saya dapat lebih mudah untuk menempatkan diri saya sebagai pengguna dari sistem yang sedang dibangun. Hal itu justru menambahkan pemikiran baru yang menjadikan sistem tersebut lebih baik lagi.

Saya sangat bangga sebagai perempuan saya bisa berkontribusi di dunia TI, dan saya sangat berharap semakin banyak lagi perempuan-perempuan tangguh yang mau ikut ambil bagian di dunia TI.

-Dewi Rosalin, Programmer

Jumlah perempuan di ranah teknologi memang tidak pernah lebih banyak dari laki-laki. Sejak kuliah di jurusan Sistem Informasi, saya sudah mengalami hal itu. 

Saat menjalani magang di bagian TI salah satu perusahaan asuransi ternama di Jakarta, saya menjadi satu-satunya perempuan dari 4 mahasiswa yang diterima. Kami semua akhirnya berteman dekat, karena setiap hari kami menghabiskan banyak waktu bersama. Mereka semua tahu bahwa saya adalah perempuan yang mandiri, bukan tomboy, tapi agak feminin dan sangat feminis. 

Saat ini, saya bekerja secara remote sebagai marketer untuk perusahaan yang berbasis di AS. Dari 20 karyawan, hanya 2 perempuan, saya dan satu asisten administratif. Semua posisi lain, seperti developer, support, dan marketer, diisi oleh laki-laki. 

Memang ada kekhawatiran pada awalnya, tapi hingga saat ini, saya belum pernah mendapat diskriminasi hanya karena saya perempuan. Semua bahasa dan pembicaraan yang ada di dalam perusahaan, dijaga agar tidak menyinggung orang lain.

Sementara di komunitas (khususnya di Indonesia), pengalaman saya sebenarnya cukup positif. Saya belum pernah ‘diserang’ oleh siapapun. Tetapi mungkin bahasa yang sering kita gunakan dapat diperbaiki, karena biasanya eksklusif hanya tertuju ke laki-laki, misalnya panggilan ‘om’. Dengan mengatakan ‘om’ di dalam grup komunitas, saya sebagai perempuan merasa tidak dianggap dan dipinggirkan.

Saya berharap suatu hari saya dapat menjadi pemimpin, sehingga dapat menginspirasi dan mengajak perempuan lain untuk tidak takut berkarya. Jika ranah teknologi di Indonesia dapat menjadi tempat yang lebih ramah dan inklusif, tentunya hal ini bisa terwujud.

-Ascencia Fike Komala, Marketer

Tetapi ternyata tidak semua perempuan mengalami pengalaman semanis ini, ada yang mengalami diskriminasi karena mereka seorang perempuan.

Kalau kata orang ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri tapi menurutku bisnis teknologi yang paling kejam.

Sudah lebih dari 5 tahun aku terjun di industri yang masih di dominasi oleh laki-laki. Aku ingin berbagi pengalamanku dari awal mula menjadi startup founder hingga akhirnya menjadi self-taught developer.

Basically, ada satu pengalaman yang saya rasa kurang menyenangkan namun menjadi pelajaran dan motivasi saya sendiri. Cerita ini bermula ketika saya menjadi finalist salah satu business incubator competition dari negeri sebrang.

Pada semifinal, saya akhirnya terpilih menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah sejumlah uang tunai beserta mentorship.

Pada saat itu kondisi saya sedang hamil 6 bulan.

Yes, para investor tentu ada keraguan sendiri dan memastikan bahwa saya memang berkomitmen membangun startup. Wajar bila ada keraguan tapi toh saya bisa membuktikan dengan user growth dan dedikasi saya setelah melahirkan. Saya mempunyai 2 bayi yang butuh perhatian (bayi yang baru saya lahirkan dan ‘bayi’ startup yang saya bangun).

Namun, sayangnya selang beberapa bulan setelah incubator pun usai, sejumlah grants yang saya menangi dan seharusnya menjadi hak saya tidak pernah kunjung ‘cair’ dengan beribu alasan. Bahkan saya hanya terus diminta menyerahkan sejumlah progress report, dan surat komitmen.

Di sisi lain, pemenang lain (laki-laki) meski startupnya tidak pernah jalan (tidak ada user growth, revenue) dan tidak perlu surat komitmen justru mendapatkan uang tersebut.

Diskriminasi ?

Well, apa pun. Saya hanya ingin fokus dan akhirnya Alhamdulillah berhasil menunjukkan bahwa saya justru tidak butuh pengakuan atau bantuan incubator tersebut. Saya bisa survive dan profit bahkan tanpa funding.

Annisa Purbandari Fauzia, Startup Founder
Annisa sedang melakukan presentasi di kompetisi inkubator bisnis
Annisa saat mengikuti kompetisi inkubator bisnis
Annisa menggendong bayi sambil bekerja menggunakan laptop
Annisa mengurus 2 bayi, bayi yang baru dilahirkan dan ‘bayi’ startup-nya
contoh meme yang menggunakan perempuan sebagai obyek
Contoh-contoh meme yang menggunakan perempuan sebagai obyek di grup komunitas

Saya baru menyelami dunia IT dan bermula sebagai relawan untuk kegiatan komunitas WordPress sejak 4 tahun lalu. Sejak awal saya terlibat memang lebih banyak kontributor laki-laki yang terlibat. Selama saya aktif untuk kegiatan offline, saya tidak menemui hambatan untuk berkontribusi. 

Saya menduga beberapa hal berikut adalah alasannya:
1. Kontributor yang lebih dulu aktif terlibat adalah kontributor yang sangat profesional dengan bisnis dan perannya, memahami Kode Etik Komunitas WordPress sedunia, dan bersungguh-sungguh ingin mengembangkan komunitas.

2. Kotributor yang lebih dulu aktif datang dari latar belakang yang beragam.

3. Saya punya pengalaman aktif di berbagai kegiatan komunitas sehingga tidak malu dan canggung dalam mengambil inisiatif, saya biasa berorganisasi dan berani mengeluarkan pendapat.

Akan tetapi ketika saya mengamati lebih jauh interaksi komunitas di dunia maya dan memahami lebih jauh semangat komunitas di dunia, saya mulai melihat dan merasakan banyak hal yang kurang ‘pas’ dengan interaksi yang terjadi di dunia maya di Indonesia. Hasil observasi saya secara umum tentang komunitas WordPress di Indonesia tertuang pada artikel berikut. https://wp-id.org/halo-komunitas-wordpress-indonesia/

Saya pernah berbicara dengan beberapa teman perempuan dan laki-laki terutama yang baru bergabung, mereka mengaku enggan untuk ikut terlibat atau bersuara karena takut dirundung (bullying). Bentuk-bentuk perundungan misalnya ketika bertanya dan dianggap kurang tepat, mereka diejek dan tidak diarahkan. 

Saya juga melihat kebiasaan menggunakan sticker atau meme yang menggunakan gambar perempuan. Perempuan diperlakukan sebagai obyek hiburan, apalagi ketika gambar perempuan yang digunakan cukup seronok.

Hal ini adalah sebuah kebiasaan buruk, akan tetapi kebiasaan buruk tersebut bisa dihentikan. Kenyataanya banyak sticker dan meme yang lebih netral dan tidak bias atau menyudutkan gender tertentu. Termasuk untuk menjual produk, saya pernah melihat sebuah iklan yang menggunakan obyek perempuan diluar konteks. 

Selain itu banyak sekali interaksi di dunia maya yang seperti ‘sampah’ atau ‘noise’. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Banyak komentar yang bukan hanya tidak bermutu dan tidak ada manfaatnya, tetapi juga seksis. Komentar yang diklaim bercandaan tetapi faktanya menjadikan perempuan obyek obrolan yang tidak sehat.

Misalnya sering kali ketika saya berbagi informasi kegiatan PerempuanWP, komentar yang masuk di artikel yang saya sebarkan adalah bahwa PerempuanWP ibarat ‘kolam’ untuk memancing ikan, dan ikan yang dimaksud adalah perempuan untuk dijadikan pacar atau istri. 

Contoh lain adalah komentar mendiskusikan mengenai kota Bangkok, kota tempat WordCamp Asia 2021, sebagai kota yang menawarkan kemudahan menggunakan jasa prostitusi dengan murah. 

Cerita di atas adalah fakta yang sebagian besar telah ditindaklanjuti dengan diberi peringatan dan dihapus. Selain itu kebanyakan komentar-komentar seksis dan tidak bermanfaat dilakukan oleh kontributor laki-laki yang tidak hanya senior atau dipandang oleh anggota komunitas, tetapi juga mungkin sudah berkeluarga atau akunnya menggunakan foto profil dan nama yang bersifat religius. DAN, semua hal tidak sehat tersebut dilakukan di platform atau dalam konteks diskusi yang menggunakan nama “WordPress” di dalamnya. 

Jika hal di atas tidak dianggap hal yang serius oleh seluruh anggota maka ketidakadilan gender akan terus terjadi di dalam komunitas WordPress. Perempuan dan SIAPA PUN harus ditempatkan di dalam komunitas sebagai bagian yang bisa berperan dan berkontribusi sama dengan anggota komunitas laki-laki. Perempuan dan SIAPA PUN harus dihargai bukan karena gendernya atau fisiknya tetapi karena kualitas kerja dan kontribusinya. 

-Devin Maeztri, Inisiator PerempuanWP

Pengalaman setiap orang di bidang teknologi memang berbeda-beda. Tetapi banyak perempuan yang mempunyai pengalaman buruk, karena lingkungan yang seksis dan merendahkan perempuan. Mari bersama-sama kita membuat komunitas WordPress dan teknologi yang inklusif, aman, dan nyaman untuk semua orang!

Kulgram #7: Headless CMS dengan WordPress

Headless CMS adalah CMS yang hanya digunakan sebagai backend saja dan bertujuan agar dapat diakses melalui API (seperti REST atau GraphQL). Akhirnya, frontend developer memiliki kebebasan untuk membangun template sebanyak yang diinginkan, tanpa memedulikan perangkat yang ingin ditargetkan karena pengambilan konten untuk setiap perangkat Headless CMS akan merespon panggilan API.

Di kulgram PerempuanWP #7 , kita akan berdiskusi tentang cara memanfaatkan WordPress sebagai Headless CMS dan insight baru dari penggunaan Headless CMS dalam membangun sebuah situs web.

Kapan akan dilaksanakan?

Minggu, 22 Maret 2020
19.30 – 22.00 WIB

Siapa pembawa materinya?

Adrianti Rusli atau yang biasa dipanggil ‘Adrin’ adalah seorang Frontend Engineer di JYSK Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang R&D, manufaktur dan distribusi skincare yang berbasis di Singapura. Selain bekerja sebagai Frontend Engineer, Adrin juga aktif berkontribusi di komunitas web di Indonesia termasuk komunitas WordPress Indonesia.

Lanjutkan membaca Kulgram #7: Headless CMS dengan WordPress

Ngobrol Bareng WP ID #5 – Agus Muhammad

Pada edisi ke-5 Ngobrol Bareng WP-ID, kami mewawancarai Mas Agus Muhammad. Beliau adalah developer dan influencer WordPress di Indonesia. Bagi Anda yang sudah lama bergabung di grup Facebook WordPress Indonesia mungkin sudah pernah dengar namanya. Beliau adalah salah satu speaker pada kegiatan Jakarta WordPress Meetup yang diadakan pada bulan Januari 2020 kemarin. Selain itu, beliau pernah menjadi speaker pada WordCamp Jakarta 2017 dan 2019.

Rencananya, beliau akan menjadi salah satu speaker pada WordCamp Asia 2020 sebagai perwakilan dari Komunitas WordPress Indonesia. Wawancara ini kami laksanakan jauh hari sebelum berita pembatalan WordCamp Asia 2020 diumumkan. Alasannya adalah keamanan bersama terkait virus Corona yang semakin hari semakin banyak menyebar ke banyak negara di Asia. Akan tetapi, WordCamp Asia tetap akan diadakan pada Januari 2021 di lokasi yang sama (Bangkok, Thailand).

Berikut hasil wawancara yang telah kami siapkan dan kami yakin masih relevan untuk disimak. Semoga dapat memberi manfaat untuk Anda.

Lanjutkan membaca Ngobrol Bareng WP ID #5 – Agus Muhammad

Kulgram #6: Mengembangkan Tema WordPress untuk Pemula

Ada ribuan tema gratis di WordPress, namun kurang cocok dengan kebutuhan situs web Anda? Ingin membuat sendiri supaya sesuai dengan brand image tetapi tidak tahu harus mulai dari mana?

Di kulgram PerempuanWP #6 ini, kita akan belajar cara mengembangkan tema WordPress untuk pemula yang sesuai dengan brand image Anda ataupun bisnis Anda.

Lanjutkan membaca Kulgram #6: Mengembangkan Tema WordPress untuk Pemula

Kontribusi ke WordPress Tanpa Beban

“Jer basuki mowo beyo” begitulah bunyi peribahasa Jawa yang artinya setiap pencapaian membutuhkan pengorbanan dan biaya. Biaya di sini tidak hanya berarti uang, bisa juga pikiran, tenaga dan waktu. Empat hal ini menjadi syarat dasar yang diperlukan jika Anda berkontribusi ke proyek open source seperti WordPress.

Proyek open source seperti WordPress memerlukan keterlibatan penggunanya yang mau secara sukarela ikut serta membangun dan mengelolanya agar WordPress selalu menjadi solusi terbaik untuk berbagai keperluan situs web. Kontributor WordPress berasal dari berbagai belahan dunia yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka bekerja dengan sistem WFH (Work from Home). Semua aktivitas kontribusi dilakukan dari rumah masing-masing. Mereka berasal dari kalangan individu (baik pehobi, pembelajar atau profesional), organisasi, atau perusahaan. Apakah mereka dibayar? Jawabannya adalah tidak.

Lanjutkan membaca Kontribusi ke WordPress Tanpa Beban

Kulgram #5: Aku Menulis Maka Aku Resign!

Pendidikan menjadi seksi untuk dibahas, apalagi dengan kampanye Merdeka Belajar yang diusung oleh Mendikbud Nadiem Makariem. Perjalanan berkarya di dunia pendidikan perlu diabadikan dalam sebuah tulisan. Ternyata menjadi bagian dari perubahan dunia pendidikan seperti sedang mengayuh sebuah perahu, butuh banyak pelaut agar sampai di tujuan.

Di kulgram PerempuanWP #5  ini, kita akan berdiskusi tentang menulis untuk refleksi perubahan pendidikan di Indonesia yang ternyata membuat narasumber resign dari sebuah industri dan bekerja di bidang pendidikan.

Kapan akan dilaksanakan?

Minggu, 2 Februari 2020
19:30 – 22:00 WIB

Siapa pembawa materinya?

Mahayu Ismaniar, akrab dipanggil Ayu, saat ini bekerja sebagai Funding and Collaboration Coordinator di Kampus Guru Cikal (KGC). Sebelumnya Ayu berperan sebagai Koordinator Pendampingan Komunitas, yang mendampingi 145 KGC dan mengelola proyek seperti Program Pelatihan Guru Belajar Literasi Pesisir Selatan, Pelatihan Pembuatan Video Pembelajaran dengan Inibudi di 8 kota, Program INOVASI yang didanai Pemerintah Australia di Kota Batu dan Probolinggo, Program Guru Melek Film dengan Sinedu, Ketua Komunitas TPN, dan Koordinator Sponsorship TPN. Saat ini Ayu juga sedang menjalankan beberapa program lainnya.

Kenapa Pendidikan? 

Hampir dua tahun belajar di Kampus Guru Cikal, proses menuju babak ini pun cukup menantang. Satu per satu melempar pertanyaan, kenapa pindah dari perusahaan sebelumnya? Kamu mau cari apa sih di dalam hidup? Kamu suka menantang hidup ya, jadi pegawai dengan hidup terjamin itu kan idaman banyak perempuan dan orang. Bagaimana tanggapan orangtua? Kenapa bidang pendidikan?

“Kenapa sih harus belajar x dan y diterapkan kapan di kehidupan sehari-hari? Kenapa kalau saya salah mengerjakan tugas dihukum? Kenapa saya dicap bodoh hanya karena tidak bisa matematika padahal saya cukup pintar di pelajaran lainnya?

Pengalaman saat menjadi murid dan ternyata saat anak-anak cukup rumit tentang sekolah membuat saya resah. Berbagai upaya saya lakukan, gabung di komunitas sebagai kakak asuh, memberikan donasi buku, memberikan pelatihan bagi guru juga mengenalkan profesi kepada murid, saya lakukan. Kegiatan kerelawanan yang berfokus di bidang pendidikan, saya lakukan ke beberapa daerah dan sayang kalau tidak diabadikan melalui tulisan.

Sampai akhirnya, tulisan refleksi saya berbuah surat pengunduran diri dan resmi bekerja di pendidikan. Isu pendidikan mungkin tak cenderung diminati, padahal pendidikan merupakan tombak penting bagi kehidupan. Aku Menulis Maka Aku Resign, karena ternyata jawaban bisa ditemukan pada jejak tulisan yang kita buat sendiri.

Jadi, jangan sampai ketinggalan kesempatan belajar bersama Kulgram#5 PerempuanWP! Segera bergabung di Telegram Perempuan WP dan ajak teman-teman perempuan lain! Untuk informasi lebih lanjut hubungi @aulia-savira dan @devin-maeztri.